BRMP NTT Melaksanakan Tanam Perdana Padi dengan Menerapkan Model PM-AAS
BRMP NTT Melaksanakan Tanam Perdana Padi dengan Menerapkan Model PM-AAS
Kupang, 09 Juni 2026, BRMP NTT melaksanakan tanam perdana padi dengan menerapkan model Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang merupakan bagian dari kegiatan Produk Teknologi Terapan Pertanian Adaptif dan Modern. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BRMP NTT Dr. Novalisa Tresya Ester Lumentut, S.P., M.Si Kepala Bagian Tata Usaha Kornelis Hanggongu, S.TP., Penanggung Jawab Kegiatan Dr. Sophia Ratnawaty, M.Si, seluruh Ketua Kelompok Fungsional (Kapoksi), Ketua Tim Kerja (Katimker), penyuluh, serta pegawai BRMP NTT.
PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang berfokus pada efisiensi, mekanisasi, dan presisi. Sistem ini menganut praktik pertanian di wilayah Arkansas, Amerika Serikat dimana salah stau metode penanaman benih padi dilakukan secara langsung atau tanam benih langsung (tabela) dengan jarak yang rapat didalam baris sehingga mengoptimalkan penggunaan lahan dan meningkatkan efisiensi produksi. PM-AAS berpedoman pada enam prinsip utama yaitu tanam rapat dalam baris, efisiensi sumber daya, mekanisasi pertanian, implementasi berbasis korporasi (skala luas), intensifikasi produksi, dan spesifik lokasi.
Pada pelaksanaanya BRMP NTT menerapkan prinsip-prinsip tersebut dengan teknologi pertanian adaptif dan modern sesuai dengan kondisi spesifik lokasi. Kegiatan tanam perdana dilaksanakan pada lahan seluas 2,5 hektar dengan menggunakan varietas padi unggul Inpari 42 Agritan dan pola tanam jajar legowo 6:1. Penanaman dilakukan menggunakan alat tanam benih langsung (atabela) yang dibuat oleh BRMP NTT sebagai dukungan terhadap modernisasi pertanian dan peningkatan efisiensi budidaya padi.
Dengan menerapkan PM-AAS dalam budidaya padi diharapkan mampu menghasilkan produksi padi yang optimal, meningkatkan efisiensi budidaya, serta mendukung transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, maju, dan berkelanjutan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi model penerapan teknologi pertanian modern yang dapat dikembangkan pada berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur